MEMANFAATKAN KECERDASAN
EMOSIONAL (Artikel Non Penelitian)
FIQRIANSYAH
41613010054
GURU HARUS MEMANFAATKAN KECERDASAN EMOSIONAL
Oleh :
Tukono J Pamungkas
Abstract,
Recent research concludes that a person's success in achieving success did not
depend on IQ (Inteleqtual Quation), but at the conclusion based on recent
research that person's success is determined more by emotional intelligence.
In
the language of research known as Emotional Quation (EQ). That's why teachers
have a lot to hone emotional skills in the educational process. Both Muhtar
(2002) and Goleman (2001) conclude the same about this. Child as an object of
learning has a lot of uniqueness that must be observed teachers, about the
behavior, skills, knowledge. Emotionally intelligent teacher who will take
advantage of the five dimensions as an element of emotional intelligence, which
self-conscious (self awareness), capable of regulating themselves (self
regulation), able to motivate yourself (self motivation), understand the
feelings of people (emphaty), maintaining friendships (social skills ).
If teachers are able to put forward the five dimensions as said Muhtar
and Goleman, then the task may be said to have been successful in delivering
the students to be emotionally intelligent child who as recently emphasized in
our educational process.Keywords: Intelligence, Emotional.
Beberapa
waktu yang lalu sebuah surat kabar nasional mengadakan pooling/jejak pendapat
mengenai Guru favorit. Pooling tersebut sasarannya adalah siswa.
Menurut siswa, guru favorit pilihannya itu bijaksana dan tegas. Karena
didasarkan pada pooling maka secara legalitas media muncul banyak guru favorit
ketika itu.
Mengapa
sampai muncul istilah guru favorit atau kurang favorit? Tentu hal ini
disasarkan pada keadaan yang sebenarnya terjadi. Realitas, bahwa guru di mata
siswa ada yang disenangi dan ada yang tidak disenangi oleh siswa. Ini sebagai
konsekwensi bahwa guru memiliki ladang sosial yang khas, yaitu lingkungan
belajar. Lingkungan yang memungkinkan terjadi interaksi sosial bermaknakan
inteleqtualias.
POWER
ENGINE, GURU ATAU SISWA?
Sangat
disadari bahwa guru adalah seorang pendidik, pengajar bahkan sebagai
pembimbing/ penasehat. Proses tersebut seperti mengemudikan sebuah perahu
dayung dimana guru sebagai nahkoda dan tenaga pendayungnya adalah anak-anak
yang belajar.
Suatu
saat guru tidak hanya menjadi nahkoda dengan tenaga siswa untuk menggerakkan
perahu tersebut. Guru suatu saat harus menjadipower engine bagi
sebuah “Kapal Jet” pembelajaran. Karena bagaimanapun juga guru ujung tombak
dalam mencapai tujuan pembelajaran. Banyak harapan siswa terhadap guru, dan
apabila harapan tersebut tidak terpenuhi mereka akan sangat kecewa. Guru harus
menyadari betapa dia sangat dibutuhkan perannya untuk siswa, karena pengaruh
dinamika kehidupan yang terjadi dalam masyarakat dan berbagai perubahan kondisi
sosial yang ada, berdampak pada pola pembelajaran di sekolah.
Perubahan
zaman dengan berbagai rupa pengaruh yang dimunculkan dengan akselerasi yang
sangat cepat menyebabkan menurunnya kecerdasan emosional di berbagai lapisa
masyarakat, tidak terkecuali di kalangan pendidik dan lingkungan sekolah pada
umumnya. Dampaknya adalah berubahnya sebagian pola pikir masyarakat, tak
terkecuali di kalangan guru. Pola pikir tersebut banyak bersangkut paut dengan
pemahaman moralitas, sosial dan nilai-nilai kemanusiaan yang lainnya. Sifat
manusia untuk melindungi diri rasanya menjadi naluri setiap orang, misalnya
melindungi diri dari serangan orang lain termasuk tindak kemarahan orang lain
terhadap dirinya.
CERDAS,
JUJUR = PETAKA?
Selanjutnya
kejujuran dalam kehidupan masyarakat kita sering menjadi sumber mala petaka.
Apabila seorang anak mengaku jujur ia aka memperoleh kemarahan. Misalnya siswa
mengaku jujur tidak mengerjakan tugas dengan alas an sebenarnya, ia akan
mendapat marah dari yang memberi tugas. Sebenarnya sebagai solusi ia dapat
diberi waktu untuk menyelesaikan tugas itu daripada dimarahi. Demikian pula
bila siswa mengantuk selalu mendapati kemarahan, padahal mengantuk itu alamiah,
akibatnya ia berusaha menipu dan selamat daripada mengatakan sebenarnya tetapi
mendapat marah. Selain itu apabila ada siswa yang sangat kritis dan sering mengajukan
berbagai pertanyaan, bagi seorang guru yang memiliki keserdasan emosional siswa
tersebut mendapat perhatian positif. Akan tetapi bagi guru yang tidak memiliki
kecerdasan emosional, hal tersebut diterima sebagai ancaman bagi dirinya bahkan
sekolah.
Goleman
(2001) menyatakan, kecerdasan emosional dikembangkan dalam lima dimensi, yaitu
sadar diri (self awareness), mampu mengatur diri (self regulation), mampu
memotivasi diri (self motivation), memahami perasaan orang (emphaty), menjaga
persahabatan (sosial skill). Kecerdasan emosional merupakan suatu kesatuan
kapabilitas seseorang yang bersifat non kognitif, kompetensi dan keahlian yang
mempengaruhi salah satu kemampuan untuk sukses di lingkungan masyarakat atau
dalam keadaan tertekan. Selanjutnya terdapat tujuh kunci yang berhubungan
dengan kecerdasan emosional, yaitu; 1) Percaya diri (confidence), 2) rasa ingin
tahu (curiosity), 3) tekun dan bersungguh-sungguh (intentionality), 4) kontrol
diri (self control). Kemampuan mengontrol aktivitas sendiri secara benar dan
perasaan yang dikontrol dari dalam, 5) kemampuan untuk berkomunikasi (capacity
to communicate), 6) kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain
(relatedness) dan 7) kemampuan dalam bekerja sama (cooperativeness).
Selanjutnya
dikatakan bahwa, kemampuan pengendalian diri merupakan basis dari kemauan
(will) dan watak (character). Akar cinta terhadap sesame terletak pada empati,
yaitu kemampuan membaca emosi orang lain yang akan menimbulkan rasa kasih
sayang. Dengan demikian, cerdas menempatkan emosi sebagai inti daya hidup.
Kecerdasan emosional yang dilandasi rasa saling percaya dapat membentuk suatu
kelompok kerja yang mampu mengatasi rasa takut, peningkatan kekuasaan dan
saling curiga.
Setiap
guru dapat dikatakan cerdas apabila mampu memanfaatkan setiap unsure informasi
yang ada dan beragam secara tepat waktu dan tepat guna, mampu memecahkan
masalah, menghadapi tantangan, menciptakan siswa yang handal, mengatasi
interaksi kompleks diantara orang-orang, serta peran masing-masing. Lingkungan
sekolah dan guru masa depan adalah mereka yang berlandaskan kecerdasan
emosional memiliki: 1) ketrampilan menjadi katalisator perubahan, 2) kemajuan
beradaptasi, 3) kemampuan memanfaatkan keragaman dan 4) kemampuan menjadi
anggota tim.
Oleh
karena itu telah saatnya dimulai pola hidup yang transparan, guru menjadi
tempat tumpuhan keluhan siswa. Tidak sebaliknya justru siswa takut apabila
persoalannya diketahui guru. Dengan demikian peran alternative guru adalah
sebagai orang tua. Selanjutnya bagaimana guru mau mengakui keterbatasan dan
kelebihan setiap siswanya. Bagaimana dapat menerapkan pendidikan dengan
kecintaan. Pengakuan terhadap keadaaan apa adanya dari setiap siswa adalah
cermin kecintaan.
Dalam
kondisi demikian maka diharapkan seorang siswa dapat berkembang wajar, memiliki
pribadi yang kondusif di masa datang diantaranya adalah 1) sosialisasi mereka
terhadap kebiasaan hidup dengan transaksi sosial horizontal yang transparan, 2)
makna pendidikan sekolah, keluarga, dan makna peran sosial, 3) tingkat
kesehatan diri dan masyarakat, 4) kedewasaan emosional, serta 5)
membangun ketahanannya terhadap kegagalan.
DAFTAR
RUJUKAN
Mukhtar,
Ervin A Priambodo. 2002. Mengukir Prestasi Panduan Menjadi Guru
Professional. Jakarta: Misaka Galiza
Goleman, Daniel. 2001. Working with
emotional intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar