Minggu, 16 November 2014

Memanfaatkan Kecerdasan Emosional

MEMANFAATKAN KECERDASAN EMOSIONAL (Artikel Non Penelitian)

FIQRIANSYAH
41613010054

GURU HARUS MEMANFAATKAN KECERDASAN EMOSIONAL
Oleh : Tukono J Pamungkas

Abstract, Recent research concludes that a person's success in achieving success did not depend on IQ (Inteleqtual Quation), but at the conclusion based on recent research that person's success is determined more by emotional intelligence.
In the language of research known as Emotional Quation (EQ). That's why teachers have a lot to hone emotional skills in the educational process. Both Muhtar (2002) and Goleman (2001) conclude the same about this. Child as an object of learning has a lot of uniqueness that must be observed teachers, about the behavior, skills, knowledge. Emotionally intelligent teacher who will take advantage of the five dimensions as an element of emotional intelligence, which self-conscious (self awareness), capable of regulating themselves (self regulation), able to motivate yourself (self motivation), understand the feelings of people (emphaty), maintaining friendships (social skills ).  If teachers are able to put forward the five dimensions as said Muhtar and Goleman, then the task may be said to have been successful in delivering the students to be emotionally intelligent child who as recently emphasized in our educational process.

Keywords: Intelligence, Emotional.

Beberapa waktu yang lalu sebuah surat kabar nasional mengadakan pooling/jejak pendapat mengenai Guru favoritPooling tersebut sasarannya adalah siswa. Menurut siswa, guru favorit pilihannya itu bijaksana dan tegas. Karena didasarkan pada pooling maka secara legalitas media muncul banyak guru favorit ketika itu.
Mengapa sampai muncul istilah guru favorit atau kurang favorit? Tentu hal ini disasarkan pada keadaan yang sebenarnya terjadi. Realitas, bahwa guru di mata siswa ada yang disenangi dan ada yang tidak disenangi oleh siswa. Ini sebagai konsekwensi bahwa guru memiliki ladang sosial yang khas, yaitu lingkungan belajar. Lingkungan yang memungkinkan terjadi interaksi sosial bermaknakan inteleqtualias.

POWER ENGINE, GURU ATAU SISWA?
Sangat disadari bahwa guru  adalah seorang pendidik, pengajar bahkan sebagai pembimbing/ penasehat.  Proses tersebut seperti mengemudikan sebuah perahu dayung dimana guru sebagai nahkoda dan tenaga pendayungnya adalah anak-anak yang belajar.
Suatu saat guru tidak hanya menjadi nahkoda dengan tenaga siswa untuk menggerakkan perahu tersebut. Guru suatu saat harus menjadipower engine bagi sebuah “Kapal Jet” pembelajaran. Karena bagaimanapun juga guru ujung tombak dalam mencapai tujuan pembelajaran. Banyak harapan siswa terhadap guru, dan apabila harapan tersebut tidak terpenuhi mereka akan sangat kecewa. Guru harus menyadari betapa dia sangat dibutuhkan perannya untuk siswa, karena pengaruh dinamika kehidupan yang terjadi dalam masyarakat dan berbagai perubahan kondisi sosial yang ada,  berdampak pada pola pembelajaran di sekolah.
Perubahan zaman dengan berbagai rupa pengaruh yang dimunculkan dengan akselerasi yang sangat cepat menyebabkan menurunnya kecerdasan emosional di berbagai lapisa masyarakat, tidak terkecuali di kalangan pendidik dan lingkungan sekolah pada umumnya. Dampaknya adalah berubahnya sebagian pola pikir masyarakat, tak terkecuali di kalangan guru. Pola pikir tersebut banyak bersangkut paut dengan pemahaman moralitas, sosial dan nilai-nilai kemanusiaan yang lainnya. Sifat manusia untuk melindungi diri rasanya menjadi naluri setiap orang, misalnya melindungi diri dari serangan orang lain termasuk tindak kemarahan orang lain terhadap dirinya.

CERDAS, JUJUR = PETAKA?
Selanjutnya kejujuran dalam kehidupan masyarakat kita sering menjadi sumber mala petaka. Apabila seorang anak mengaku jujur ia aka memperoleh kemarahan. Misalnya siswa mengaku jujur tidak mengerjakan tugas dengan alas an sebenarnya, ia akan mendapat marah dari yang memberi tugas. Sebenarnya sebagai solusi ia dapat diberi waktu untuk menyelesaikan tugas itu daripada dimarahi. Demikian pula bila siswa mengantuk selalu mendapati kemarahan, padahal mengantuk itu alamiah, akibatnya ia berusaha menipu dan selamat daripada mengatakan sebenarnya tetapi mendapat marah. Selain itu apabila ada siswa yang sangat kritis dan sering mengajukan berbagai pertanyaan, bagi seorang guru yang memiliki keserdasan emosional siswa tersebut mendapat perhatian positif. Akan tetapi bagi guru yang tidak memiliki kecerdasan emosional, hal tersebut diterima sebagai ancaman bagi dirinya bahkan sekolah.
Goleman (2001) menyatakan, kecerdasan emosional dikembangkan dalam lima dimensi, yaitu sadar diri (self awareness), mampu mengatur diri (self regulation), mampu memotivasi diri (self motivation), memahami perasaan orang (emphaty), menjaga persahabatan (sosial skill). Kecerdasan emosional merupakan suatu kesatuan kapabilitas seseorang yang bersifat non kognitif, kompetensi dan keahlian yang mempengaruhi salah satu kemampuan untuk sukses di lingkungan masyarakat atau dalam keadaan tertekan. Selanjutnya terdapat tujuh kunci yang berhubungan dengan kecerdasan emosional, yaitu; 1) Percaya diri (confidence), 2) rasa ingin tahu (curiosity), 3) tekun dan bersungguh-sungguh (intentionality), 4) kontrol diri (self control). Kemampuan mengontrol aktivitas sendiri secara benar dan perasaan yang dikontrol dari dalam, 5) kemampuan untuk berkomunikasi (capacity to communicate), 6)  kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain (relatedness) dan 7) kemampuan dalam bekerja sama (cooperativeness).
Selanjutnya dikatakan bahwa, kemampuan pengendalian diri merupakan basis dari kemauan (will) dan watak (character). Akar cinta terhadap sesame terletak pada empati, yaitu kemampuan membaca emosi orang lain yang akan menimbulkan rasa kasih sayang. Dengan demikian, cerdas menempatkan emosi sebagai inti daya hidup. Kecerdasan emosional yang dilandasi rasa saling percaya dapat membentuk suatu kelompok kerja yang mampu mengatasi rasa takut, peningkatan kekuasaan dan saling curiga.
Setiap guru dapat dikatakan cerdas apabila mampu memanfaatkan setiap unsure informasi yang ada dan beragam secara tepat waktu dan tepat guna, mampu memecahkan masalah, menghadapi tantangan, menciptakan siswa yang handal, mengatasi interaksi kompleks diantara orang-orang, serta peran masing-masing. Lingkungan sekolah dan guru masa depan adalah mereka yang berlandaskan kecerdasan emosional memiliki: 1) ketrampilan menjadi katalisator perubahan, 2) kemajuan beradaptasi, 3) kemampuan memanfaatkan keragaman dan 4) kemampuan menjadi anggota tim.
Oleh karena itu telah saatnya dimulai pola hidup yang transparan, guru menjadi tempat tumpuhan keluhan siswa. Tidak sebaliknya justru siswa takut apabila persoalannya diketahui guru. Dengan demikian peran alternative guru adalah sebagai orang tua. Selanjutnya bagaimana guru mau mengakui keterbatasan dan kelebihan setiap siswanya. Bagaimana dapat menerapkan pendidikan dengan kecintaan. Pengakuan terhadap keadaaan apa adanya dari setiap siswa adalah cermin kecintaan.
Dalam kondisi demikian maka diharapkan seorang siswa dapat berkembang wajar, memiliki pribadi yang kondusif di masa datang diantaranya adalah 1) sosialisasi mereka terhadap kebiasaan hidup dengan transaksi sosial horizontal yang transparan, 2) makna pendidikan sekolah, keluarga, dan makna peran sosial, 3) tingkat kesehatan diri dan masyarakat,  4) kedewasaan emosional, serta 5) membangun ketahanannya terhadap kegagalan.

DAFTAR RUJUKAN
Mukhtar, Ervin A Priambodo. 2002. Mengukir Prestasi Panduan Menjadi Guru Professional. Jakarta: Misaka Galiza
Goleman, Daniel. 2001. Working with emotional intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama


Tidak ada komentar:

Posting Komentar